Di Ujung Mata
- Sep 9, 2018
- 1 min read
"Udah berapa lama?" Aku berhenti mengaduk kopiku lalu memberikan tatapan kesal pada Denis, manusia nista yang setiap persediaan rokoknya habis pasti mengungsi ke kamarku. "Jawab sih gua nanya, malah dikacangin dih." Ia menyulut rokok ke duabelasnya. Malam sudah larut tapi kami masih terjaga di beranda asrama ditemani beberapa bungkus rokok dan sebungkus pilus. Aku meneguk kopiku lalu menatap kegelapan yang menyelimuti halaman asrama. Denis tidak berkata-kata lagi, ia sudah mengerti gelagatku. Jika aku diam berarti ia juga harus diam. Jangkrik sudah lama tidak terdengar, musim penghujan sudah berjalan sekitar tiga bulan. Malam ini terlalu sunyi untuk tidak mengeluarkan kata-kata cheesy. "Long enough untuk disebut tolol." balasku setelah sekian lama. Denis tidak langsung menjawab, ia tertawa sebentar lalu menghisap rokoknya sebelum mendaratkan tangannya di bahuku. "Kau pikir dia tidak merasa dirinya tolol? Tiap bertemu cuma berani melirik di sudut mata, hah?"

Comments